Awalnya kita memang sahabat, setiap hari kita tertawa melepas canda tanpa ada rasa aneh yang menyesak dada. Berdebat, mencerca, berdiskusi, mencaci hingga berakhir pada hal yang sama lagi: tawa renyah kita.
Awalnya kita tak berprasangka. Bercanda tanpa ada rasa suka, mencela tanpa dendam di dada, kita bersatu dan berpadu menjadi sahabat yang tak kan pernah termakan adu.
Awalnya kita selalu berbagi cerita, membagi duka maupun bahagia bersama. Tanpa ada tabir yang menghalangi kisah perjalanan persahabatan kita.
Awalnya… Awalnya… Awalnya…
Tapi pada akhirnya, hanya karena rasa yang mendesir di hatiku, yang mengembang menjadi sebuah deru hebat yang meluluh lantahkan daratan hati di dekatnya akhirnya kita sedikit merenggang. Aku merasa ada jarak ber mil-mil meski sebenarnya jarak kita tetap dekat. Aku merasa ada tali yang mengikat kakiku hingga tak mampu lagi menghamprimu. AKu merasa ada sekat yang tiba-tiba membuat kita makin renggang.
Aku rasa memang semua ini adalah salahku. Salah, karena aku tak pernah bisa menjaga perasaanku. Aku terlalu menuruti hawa nafsuku hingga aku tak pernah menilik perasaanmu. Aku mencoba untuk mendekatimu dengan caraku, namun ternyata tak pernah ada dari caraku yang menarik hatimu, justru kau muak dengan semua yang kulakukan. Kau bilang aku kekanak-kanakan, mungkin memang benar. Kawan sebenarnya bukan itu niatku. Aku hanya ingin diperhatikan, tidak lebih. Namun manjaku padamu ternyata menuai petaka terhadap kisahku ini. Kisah yang semula indah penuh bunga berwarna-warni kini berubah menjadi taman busuk yang isinya hanya semak belukar dan bunga-bunga busuk tak sedap di pandang.
Aku memang mengaku pernah salah menagmbil tindakan. Namun kawan, itu di bawah kendali nalar pikirku. Aku terlalu bergairah untuk memancing emosimu waktu itu. Aku suka dengan kamarahanmu, karena dengan itu au terlihat begitu lucu. Kau justru tampak lebih berwibawa tatkala kau marah. Aku sennag dengan saat-saat itu, jadi jangan pernah salahka aku jiak akhirnya aku bertindak layaknya orang bodoh yang mengharap cinta sang pangeran berkuda putih. Jauh dari sebuah anga yang indah. Kawan, kumohon maafkan aku.
Andai aku mampu meminta pada Tuhan agar waktuku diulang kembali. Tentu aku akan menikmati indahnya bersahabat denganmu. Kan kutepis segala rasa yang disebar oleh makhluk bertanduk merah menyesatkan itu.
Aku ingin mengadu, tapi entah pada siapa lagi, karena selama ini setiap aku ada masalah, orang yang pertama kucari adalah dirimu. Namun sekarang, setelah kita benar-benar telah jauh aku tak tau harus pada siapa mengadukan segala keluh kesah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar