Selasa, 01 November 2011

Goresan Penaku *19


Topeng Kesetiaanku
Oleh: Lee

Menunggu bukanlah satu hal yang menyenangkan mungkin. Namun bagiku, menunggu bukan suatu beban. Tetapi sesuatu yang harus selalu aku nikmati. Karena setiap waktu, bahkan setiap saat aku harus selalu disibukkan dengan kegiatan menunggu.
 Bukan menunggu penumpang seperti Pak sopir yang sedang mencari nafkah untuk keluarganya di rumah, bukan pula seperti pedagang yang menunggu dagangannya agar segera laku. Atau  seperti kepala sekolah yang setiap waktu kenaikan kelas selalu khawatir, akankah sekolahnya dibanjiri oleh calon siswa yang pandai, atau orang tua calon siswa yang punya uang banyak sehingga dapat dengan leluasa memasukkan anaknya ke sekolah yang sesuai dengan keinginannya, meski otak anak itu sebenarnya kosong karena tak pernah ia gunakan untuk berpikir.
Aku bukan bagian dari mereka. Aku hanyalah satu dari seribu orang yang saat ini sedang menunggu. Menunggu ketidakpastian yang entah sampai kapan akan selalu aku tunggu. Ketidakpastian yang kau ciptakan ketika hati ini mulai mengenal apa itu cinta. Saat orang lain sudah mencoba untuk melakukan hal-hal yang menurutku adalah tindakan yang tak ada faedahnya, menggosip, atau mencerca pemerintahan yang terus menerus mencekik leher rakyat dengan kebijakan-kebijakan yang justru menguntungkan pihaknya. Aku hanya di sini. Tetap bertahan menunggumu yang entah kapan memberikan kepastian itu. Aku masih ada di ujung jalan ini. Jalan yang dulu terakhir kali engkau mengucap janji itu. Jalan yang sama dengan yang dulu. Yang hampir tiap malam kita melihat bintang di langit yang kelam yang katamu itu adalah sisi buruk dunia ini. Jalan yang dulu aku sempat berlari ketika kau hampir saja melempariku dengan tepung tengik yang kau beli di warung dekat jalan ini.
Aku tetap di sini. Biar pun hujan itu turun dengan derasnya, hingga para petani mencerca karena padi yang baru saja ia tanam hanyut terbawa arus air yang berlebih. Dan benar seperti para petani itu, aku pun terhanyut dalam lautan air yang ditimbulkan hujan. Terasa dingin menusuk tulang. Tapi kucoba untuk menepis jauh-jauh rasa dingin itu. Karena bagiku yang terpenting adalah kedatanganmu. Membawakan aku berkantong-kantong makanan enak yang kau janjikan tempo hari.
Aku masih menahan rasa rindu ini. Dan inilah buktinya. Aku masih bertahan menunggumu. Hingga musim hujan sudah kulalui 2 kali. Tahukah wahai engkau, aku tetap setia menunggumu?
Banyak mobil-mobil yang melewati jalan ini yang dikendarai oleh orang yang mengatasnamakan dirinya seorang petinggi negeri berhasil menertawaiku. Seolah tertawanya itu mengandung arti: Hari gini masih setia menunggu?? Lihat semua orang di dunia ini, sudah tak ada lagi yang jujur. Semua pembohong besar, dan untuk apa kau tetap setia ? Aku rasa kau adalah satu dari berjuta orang yang telah terbohongi. Semua ini cuma bohong!! Ikutilah arusnya! Jangan jadi orang yang goblok dan merugi hanya gara-gara kau setia!!! Hahaha,,,, kau mau makan apa jika yang kau andalkan hanya kesetiaan. Persetan dengan kesetiaan. Menyesatkan!!!
Dan tahukai wahai kau, aku tetap setia… Bahkan hingga nyawaku ini hilang dibawa angin, aku akan tetap setia menunggumu. Aku yakin kau akan datang. Membawa bungkusan yang dulu kau janjikan.
Ya, aku akan tetap setia andai saja orang itu tidak datang menghampiriku.  Orang bangsat seperti dirinya. Aku masih setia menantimu andai saja orang biadab yang berhati binatang itu tidak berpura-pura menolongku. Dia membawaku pergi ketika hatiku masih setia menunggumu. Dia menghancurkan apa yang seharusnya engkau dapatkan dariku. Orang berdasi yang mengatasnamakan dirinya pejabat, Yang kurasa baru kemarin ia menggembar-gemborkan sekolah gratis untuk anak-anak dari orang-orang seperti kita. Berjanji akan menjadikan hidup orang-orang seperti kita ini sejahtera. Cih… Sejahtera?
Aku tertawa sendiri ketika dia, sosok yang katanya disegani itu berhasil aku taklukan. Ya, berhasil kutaklukan. Kau bisa bayangkan betapa puasnya aku saat itu. Ketika sosok yang tak mengenakan sehelai pakaian pun itu mencicipi tubuhku yang berbau aspal, berdebu, dan kotor. Aku baru tahu kalau aku berhasil menaklukan orang seperti dia!! Orang, tapi hakikatnya binatang. Dan mungkin lebih hina dari binatang!           Maafkan aku. Bukan aku tak setia padamu, tapi ini semua justru karena aku sayang padamu. Orang seperti dia ini lah yang memisahkan kita. Orang-orang keparat seperti dirinyalah yang berhasil membunuhmu perlahan-lahan dalam jerat kemiskinan. Wahai sayang, saksikanlah, aku berhasil menaklukkannya!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar