Kau menghisap 3 puntung rokok dalam waktu kurang dari 2 jam. Ya Tuhan, sudah sebegitu kecanduankah kau dengan Tuhan 9 centi itu? Apa kau tak sadar bahwa dengan sekali hisap, kau sudah merelakan satu detik nyawamu di dunia? Ah, aku yakin kau tak menyadari itu. Aku tau itu, karena setiap kuingatkan kau selalu berdalih dengan seribu satu alasan. Aku muak dengan semua ini. Bukan maksudku untuk mencampuri urusanmu dengan barang kesayanganmu itu. Aku hanya prihatin saja, aku tak ingin nyawamu kau gadaikan dengan barang yang menurutku tak ada manfaatnya dan justru hanya akan menipiskan kantongmu saja mengingat harga tembakau yang melambung naik kuyakin harga rokokmu pun ikut naik.
Kawan, sebenarnya aku tak bernyali untuk sedikitpun menyinggung tentang kebiasaan merokokmu itu. Kau tau (atau mungkin hingga saat ini kau memang tak pernah tahu) bahwa aku memberanikan diriku mencampuri urusanmu karena aku belum rela, bahkan tak pernah rela jika nantinya kau menghilang dari peredaran dunia ini terlalu cepat. Bukan, bukan aku mendoakan yang jelek padamu. Hanya rasa tak tega jika sampai hal itu benar-benar terjadi padamu. Aku masih memendam harapan itu, bahkan jika sampai harus menunggu berpuluh-puluh tahun hingga kau menyambutnya aku tak apa. Dan untuk itulah salah satu alasanku mengapa aku tak merelakan dirimu mencicipi lintingan berasap itu. Aku tak kan pernah rela.
Kawan, sejenak dengarlah kata-kataku ini. Ingat, aku takkan pernah jemu untuk mengingatkanmu. Bahkan hingga kau sendiri akan merasa jemu dengan segala ocehanku ini. Begini saja, mungkin kita akan mengadakan perjanjian tak tertulis dimana janji itupun hanya aku saja yang tahu. Kau hanya menjadi sang pelaku nya saja. Terlihat lucu memang. Tapi tak apa. Aku benar-benar tak mengapa, toh ini pun demi kebaikanmu juga.
Aku, dengan sangat terpaksa dan tanpa rasa rela sedikitpun akan berjanji, untuk berhenti mencintaimu saja. Karena kurasa semakin kuungkap kebencianku dengan rokok itu semakin benci pula kau denganku. Harapku hanya satu: dengan berhentinya aku mengharapkan dirimu disampingku, berhenti pula aku menasehatimu akan hal itu dan kuharap dengan berhentinya nasehatku kau mau merenungi kata-kata yang hampir tiap hari kukatakan padamu itu.
Mulai saat ini aku akan menghindarimu saja kawan, karena setiap aku dekat denganmu entah itu hanya sekedar urusan tugas kuliah atau apa pun itu namanya_selama itu pula getaran itu masih terasa. Aku benar-benar ingin menghapus bayangmu kawan, tapi kuharap kau akan segera meyadari apa yang selama ini kukatakan ini memang benar adanya. Cepat atau lambat.
Kawan, jika nanti kau merasa bahwa ini semua memang benar, tetap jangan pernah mencariku lagi. Aku benar-benar ingin menjauhimu. Biarlah niat baikku ini bukan hanya sekedar topeng agar aku bisa lebih lama denganmu, tapi niat ini biar menjadi tulus karena memang yang kau lakukan dengan sang pujaanmu itu akan merugikan dirimu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar