Kukira Sama
Kukira kita akan sama. Berhenti di pojokan jalan itu. Menikmati permen loli hingga belepotan disekitar mulut. Bermain-main dengan tai anjing yang baru saja buang hajat sembarangan.
Kukira kita akan sama, Duduk di kursi taman, membaca koran sambil mendengarkan jerit bocah-bocah yang asyik bermain dengan kawannya.
Dan kukira kita sama. Menanti sesuatu yang tak kunjung tiba. Sampai sekarang. Di penghujung waktu yang entah sejak kapan kita berkubang di dalamnya. Mungkin sejak petasan yang kau lemparkan saat akan pergi ke pasar malam berhasil melesat ke samping tubuh kerempeng milik anak Pak RT, hingga akhirnya ia pulang, tak jadi ke pasar malam karena jempol kakinya berdarah. Atau sejak mentari mulai beranjak menuju peraduannya ditemani sekawanan burung sriti yang hendak kembali ke sarangnya.
Wahai engkau, kukira kita sama. Membunyikan klakson mobil pickup keras-keras. Menyemburkan air ledeng dan akhirnya tertawa lepas.
Dan inilah kita: selalu sama.
Namun adakah kau tahu, bahwa dibalik persamaan ini aku menyimpan rahasia besar darimu. Rahasia yang entah sampai kapan mampu kupendam sendiri. Sedianya ini akan aku ceritakan kepadamu, namun aku tak pernah punya nyali. Aku begitu kerdil dihadapanmu. Bahkan untuk sejenak mengungkapkan rasa yang sama pun tak mampu kulakukan.
Kukira kita sama: sama-sama angkuh. Tak mau mengaku. Tak mau merayu. Kita hanya diam. Memperolok pasangan muda yang kini duduk berseberangan dengan kita. “Mereka tidak sama, tidak akan cocok”. Itu ungkapmu. Sebenarnya aku ingin menimpali, “Kita sama, dan apakah itu bukti bahwa kita cocok? ” Dan sekali lagi kuungkapkan: Aku tak pernah bernyali mengungkap itu!
Kawanku, rambut kita telah berubah putih. Sudah masanya kita untuk mengakhiri semua ini. Berhentilah berkutat dari buku-buku tebalmu. Lepaskan kaca matamu dan mari kita sejenak merenung. Kembali mengingat masa dimana goresan tawa selalu mewarnai hari-hari kita. Saat kita masih sama-sama mengecap manisnya sebuah bangku perkuliahan. Aku rindu saat-saat itu.
Jika dikalkulasikan, sudah berapa banyak waktu yang kita buang sia-sia untuk menyembunyikan semua hal yang sangat remeh ini, tapi begitu sesak saat tua begini? Dimanakah letak salah kita waktu itu? Kurasa hanya gengsi yang membuat semuanya menjadi beban berkepanjangan. Beban yang berkarat hingga sekarang. Masih malukah kita mengungkapnya?
Kukira kita sama: beruban putih dengan membawa sekantong beban yang mulai berkarat. Jadi mari, kita buka beban ini bersama, sebelum diri makin merenta. Memang tak pantas jika getar ini masih menghampiri. Sedikit tak wajar memang. Hanya saja sekali lagi kutegaskan, kita butuh satu kepastian: menyatukan yang seharusnya mungkin di waktu lampau. Meski agak terlambat. Mari kawan, mari kita satukan dan jangan pernah pisahkan. Karena hakikatnya kurasa kita sama. Dan kita kan bersama-sama dengan persamaan ini. Mari, mari kita eratkan.
09.01 pm
Saat sunyi menghampiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar