Pekat
Kusibak mentarimu,
Dan kurangkul cakrawala dunia
Kusematkan harumnya melati pada istana awan yang bergumpal dalam senja
Aku masuk dalam peraduanmu
Mengadu, merayu
Mega di sana
Menyaksikan kita
Di balik pelangi berkelopak renda
Tanah basah
Menimbulkan aroma khas
Dan…
Melatiku kau lepas
Kau jatuhkan
Kau gugurkan
Kau ganti dengan kunang-kunang hitam
Dalam bising kipas angin, 20.57 pm
Di Sebuah Sudut
Ada lubang di lehermu
Menganga, menyedot hampa
Lalu seonggok sampah di belakangmu
Tiba-tiba bergerak:
Menggertak
Masih dengan dirimu yang diam
Aku mencoba melukismu: wajah dan
Leher yang berlubang
Serta sampah yang terus menggertak
Engkaupun akhirnya ikut berteriak
Meremas sampah di belakangmu
Yang kemudian berubah jadi bunga
Mawar tanpa duri
Mengulum senyum
Pancaran sinar wajahmu yang berbinar
Akhirnya menutup lubang di lehermu
Bukan karena mawar itu
Tapi karena teriakanmu, karena sampah di belakangmu
Nestapa Dini Hari
Dalam pekat malam aku masih menanti…
Sang waktu berjalan memutar, mengelilingi rumput liar yang sedari tadi bergabung denganku
Langit cerah dengan taburan bintang yang mempesona, menerbangkan dimensi jiwa penuh gelora
Ada tampak yang hilang, bergaris-garis panjang membentang
Bukan sayap sang malaikat, namun nestapa sang merah saga
Ia di ujung duka, kembali menunggu sang waktu berhenti berputar
Mengiginkannya memeluk cinta
Cahya ungu berkelebat dalam raut duniaku
Mengadu peluh pada malam terbentang
Gelagak bulan yang bercanda dengan kejora
Bernyanyi dalam sendu sembilu
Kupeluk saja hampa pertanda
Hingga senja kembali hilang
Dan malam menggantung bintang rembulan
_Gelisah Jiwa, 11072011_
Dalam Pandanganku
Ada kesadaran yang tak pernah terungkap dalam pendaranmu
Ada makna namun tak pernah sekalipun dikecap manis rasa
Kala dunia masih berjongkok memikirkan apa yang kan diperbuat manusia
Engkau hadirkan segores makna dalam jendela
Bening, menghambur buih di seka pagi
Sketsamu menghijau di pucuk daun
Bumi tertawa, langit menjulur senja
Engkau teguk sepercik luka yang merana dupa
Terbawa bahana angkasa raya
Adalah Engkau
Adalah engkau…
Mengiba dalam diam,
Mencerca dalam lamunan
Adalah engkau
Mencipta bercak jingga diujung senja
Melukis telaga warna dengan antara
Dan…
Adalah engkau,
Setitik jiwa dalam rangkulan asa
Panah apimu
Penuhi raga…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar