Jumat, 16 Maret 2012

Puisi^^


Pekat
Kusibak mentarimu,
Dan kurangkul cakrawala dunia
Kusematkan harumnya melati pada istana awan yang bergumpal dalam senja
Aku masuk dalam peraduanmu
Mengadu, merayu
Mega di sana
Menyaksikan kita
Di balik pelangi berkelopak renda
Tanah basah
Menimbulkan aroma khas
Dan…
Melatiku kau lepas
Kau jatuhkan
Kau gugurkan
Kau ganti dengan kunang-kunang hitam 
                                                                        Dalam bising kipas angin, 20.57 pm



Di Sebuah Sudut
Ada lubang di lehermu
Menganga, menyedot hampa
Lalu seonggok sampah di belakangmu
Tiba-tiba bergerak:
Menggertak
            Masih dengan dirimu yang diam
            Aku mencoba melukismu: wajah dan
            Leher yang berlubang
            Serta sampah yang terus menggertak
Engkaupun akhirnya ikut berteriak
Meremas sampah di belakangmu
Yang kemudian berubah jadi bunga
Mawar tanpa duri
Mengulum senyum
            Pancaran sinar wajahmu yang berbinar
Akhirnya menutup lubang di lehermu
Bukan karena mawar itu
Tapi karena teriakanmu, karena sampah di belakangmu



Nestapa Dini Hari

Dalam pekat malam aku masih menanti…
Sang waktu berjalan memutar, mengelilingi rumput liar yang sedari tadi bergabung denganku
Langit cerah dengan taburan bintang yang mempesona, menerbangkan dimensi jiwa penuh gelora
Ada tampak yang hilang, bergaris-garis panjang membentang
Bukan sayap sang malaikat, namun nestapa sang merah saga
Ia di ujung duka, kembali menunggu sang waktu berhenti berputar
Mengiginkannya memeluk cinta
Cahya ungu berkelebat dalam raut duniaku
Mengadu peluh pada malam terbentang
Gelagak bulan yang bercanda dengan kejora
Bernyanyi dalam sendu sembilu
Kupeluk saja hampa pertanda
Hingga senja kembali hilang
Dan malam menggantung bintang rembulan
                                                                                    _Gelisah Jiwa, 11072011_




Dalam Pandanganku

Ada kesadaran yang tak pernah terungkap dalam pendaranmu
Ada makna namun tak pernah sekalipun dikecap manis rasa
Kala dunia masih berjongkok memikirkan apa yang kan diperbuat manusia
Engkau hadirkan segores makna dalam  jendela
Bening, menghambur buih di seka pagi
                        Sketsamu menghijau di pucuk daun
                        Bumi tertawa, langit menjulur senja
                        Engkau teguk sepercik luka yang merana dupa
                        Terbawa bahana angkasa raya





Adalah Engkau

Adalah engkau…
Mengiba dalam diam,
Mencerca dalam lamunan
Adalah engkau
Mencipta bercak jingga diujung senja
Melukis  telaga warna dengan antara
Dan…
Adalah engkau,
Setitik jiwa dalam rangkulan asa
Panah apimu
Penuhi raga…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar