Selasa, 01 November 2011

Goresan Penaku *20


Di tengah ketidakberdayaanku akan semua ini ternyata Allah memberikan jawabannya. Lewat secangkir benci yang entah kenapa mampu hadir dalam dimensi ruang hatiku. Bukan, bukan benci karena suatu apa. Aku hanya merasa benar-benar muak dengannya. Ternyata Allah benar-benar menjaga komitmen yang telah lama aku ikrarkan dalam sujud malamku yang panjang…
Allah begitu baik. Bahkan ketika kita tak sadar bahwa Allah memberikan sesuatu yang baik pada kita. Dengan segala rahasiaNya, DIA justru memberikan dan memilihkan yang terbaik untuk kita…
Ya Rabb maafkan hambaMU ini… Semoga ini menjadi bahan pelajaran terbaik untukku bahwa dengan memikirkan ORLA tetap saja tak akan pernah menghasilkan focus terhadap pekerjaan yang sedang dilakukan… Tetap optimis LIA… All IS Well… Bahkan setelah engkau benar-benar mambencinya…
Sesungguhnya Allah memberikan segala sesuatu yang kita minta. Entah itu kita sadari atau tidak… Namun pemberianNya pun dengan caraNYA… Jadi mungkin saja apa yang kita inginkan itu sesungguhnya sudah diberikanNya, tapi kita tak menyadari…
Allah memberikan pilihan-pilihan sulit dalam hiidup ini bukan untuk mmebuat kita menjadi bingung. Hanya saja Allah menginginkan kita dewasa karena munculnya masalah itu…

Goresan Penaku *19


Topeng Kesetiaanku
Oleh: Lee

Menunggu bukanlah satu hal yang menyenangkan mungkin. Namun bagiku, menunggu bukan suatu beban. Tetapi sesuatu yang harus selalu aku nikmati. Karena setiap waktu, bahkan setiap saat aku harus selalu disibukkan dengan kegiatan menunggu.
 Bukan menunggu penumpang seperti Pak sopir yang sedang mencari nafkah untuk keluarganya di rumah, bukan pula seperti pedagang yang menunggu dagangannya agar segera laku. Atau  seperti kepala sekolah yang setiap waktu kenaikan kelas selalu khawatir, akankah sekolahnya dibanjiri oleh calon siswa yang pandai, atau orang tua calon siswa yang punya uang banyak sehingga dapat dengan leluasa memasukkan anaknya ke sekolah yang sesuai dengan keinginannya, meski otak anak itu sebenarnya kosong karena tak pernah ia gunakan untuk berpikir.
Aku bukan bagian dari mereka. Aku hanyalah satu dari seribu orang yang saat ini sedang menunggu. Menunggu ketidakpastian yang entah sampai kapan akan selalu aku tunggu. Ketidakpastian yang kau ciptakan ketika hati ini mulai mengenal apa itu cinta. Saat orang lain sudah mencoba untuk melakukan hal-hal yang menurutku adalah tindakan yang tak ada faedahnya, menggosip, atau mencerca pemerintahan yang terus menerus mencekik leher rakyat dengan kebijakan-kebijakan yang justru menguntungkan pihaknya. Aku hanya di sini. Tetap bertahan menunggumu yang entah kapan memberikan kepastian itu. Aku masih ada di ujung jalan ini. Jalan yang dulu terakhir kali engkau mengucap janji itu. Jalan yang sama dengan yang dulu. Yang hampir tiap malam kita melihat bintang di langit yang kelam yang katamu itu adalah sisi buruk dunia ini. Jalan yang dulu aku sempat berlari ketika kau hampir saja melempariku dengan tepung tengik yang kau beli di warung dekat jalan ini.
Aku tetap di sini. Biar pun hujan itu turun dengan derasnya, hingga para petani mencerca karena padi yang baru saja ia tanam hanyut terbawa arus air yang berlebih. Dan benar seperti para petani itu, aku pun terhanyut dalam lautan air yang ditimbulkan hujan. Terasa dingin menusuk tulang. Tapi kucoba untuk menepis jauh-jauh rasa dingin itu. Karena bagiku yang terpenting adalah kedatanganmu. Membawakan aku berkantong-kantong makanan enak yang kau janjikan tempo hari.
Aku masih menahan rasa rindu ini. Dan inilah buktinya. Aku masih bertahan menunggumu. Hingga musim hujan sudah kulalui 2 kali. Tahukah wahai engkau, aku tetap setia menunggumu?
Banyak mobil-mobil yang melewati jalan ini yang dikendarai oleh orang yang mengatasnamakan dirinya seorang petinggi negeri berhasil menertawaiku. Seolah tertawanya itu mengandung arti: Hari gini masih setia menunggu?? Lihat semua orang di dunia ini, sudah tak ada lagi yang jujur. Semua pembohong besar, dan untuk apa kau tetap setia ? Aku rasa kau adalah satu dari berjuta orang yang telah terbohongi. Semua ini cuma bohong!! Ikutilah arusnya! Jangan jadi orang yang goblok dan merugi hanya gara-gara kau setia!!! Hahaha,,,, kau mau makan apa jika yang kau andalkan hanya kesetiaan. Persetan dengan kesetiaan. Menyesatkan!!!
Dan tahukai wahai kau, aku tetap setia… Bahkan hingga nyawaku ini hilang dibawa angin, aku akan tetap setia menunggumu. Aku yakin kau akan datang. Membawa bungkusan yang dulu kau janjikan.
Ya, aku akan tetap setia andai saja orang itu tidak datang menghampiriku.  Orang bangsat seperti dirinya. Aku masih setia menantimu andai saja orang biadab yang berhati binatang itu tidak berpura-pura menolongku. Dia membawaku pergi ketika hatiku masih setia menunggumu. Dia menghancurkan apa yang seharusnya engkau dapatkan dariku. Orang berdasi yang mengatasnamakan dirinya pejabat, Yang kurasa baru kemarin ia menggembar-gemborkan sekolah gratis untuk anak-anak dari orang-orang seperti kita. Berjanji akan menjadikan hidup orang-orang seperti kita ini sejahtera. Cih… Sejahtera?
Aku tertawa sendiri ketika dia, sosok yang katanya disegani itu berhasil aku taklukan. Ya, berhasil kutaklukan. Kau bisa bayangkan betapa puasnya aku saat itu. Ketika sosok yang tak mengenakan sehelai pakaian pun itu mencicipi tubuhku yang berbau aspal, berdebu, dan kotor. Aku baru tahu kalau aku berhasil menaklukan orang seperti dia!! Orang, tapi hakikatnya binatang. Dan mungkin lebih hina dari binatang!           Maafkan aku. Bukan aku tak setia padamu, tapi ini semua justru karena aku sayang padamu. Orang seperti dia ini lah yang memisahkan kita. Orang-orang keparat seperti dirinyalah yang berhasil membunuhmu perlahan-lahan dalam jerat kemiskinan. Wahai sayang, saksikanlah, aku berhasil menaklukkannya!!

Goresan Penaku *18


Kukira Sama
Kukira kita akan sama. Berhenti di pojokan jalan itu. Menikmati permen loli hingga belepotan disekitar mulut. Bermain-main dengan tai anjing yang baru saja buang hajat sembarangan.
Kukira kita akan sama, Duduk di kursi taman, membaca koran sambil mendengarkan jerit bocah-bocah yang asyik bermain dengan kawannya.
Dan kukira kita sama. Menanti sesuatu yang tak kunjung tiba. Sampai sekarang. Di penghujung waktu yang entah sejak kapan kita berkubang di dalamnya. Mungkin sejak petasan yang kau lemparkan saat akan pergi ke pasar malam berhasil melesat ke samping tubuh kerempeng milik anak Pak RT, hingga akhirnya ia pulang, tak jadi ke pasar malam karena jempol kakinya berdarah. Atau sejak mentari mulai beranjak menuju peraduannya ditemani sekawanan burung sriti yang hendak kembali ke sarangnya.
Wahai engkau, kukira kita sama. Membunyikan klakson mobil pickup keras-keras. Menyemburkan air ledeng dan akhirnya tertawa lepas.
Dan inilah kita: selalu sama.
Namun adakah kau tahu, bahwa dibalik persamaan ini aku menyimpan rahasia besar darimu. Rahasia yang entah sampai kapan mampu kupendam sendiri. Sedianya ini akan aku ceritakan kepadamu, namun aku tak pernah punya nyali. Aku begitu kerdil dihadapanmu. Bahkan untuk sejenak mengungkapkan rasa yang sama pun tak mampu kulakukan.
Kukira kita sama: sama-sama angkuh. Tak mau mengaku. Tak mau merayu. Kita hanya diam. Memperolok pasangan muda yang kini duduk berseberangan dengan kita. “Mereka tidak sama, tidak akan cocok”. Itu ungkapmu. Sebenarnya aku ingin menimpali, “Kita sama, dan apakah itu bukti bahwa kita cocok? ” Dan sekali lagi kuungkapkan: Aku tak pernah bernyali mengungkap  itu!
Kawanku, rambut kita telah berubah putih. Sudah masanya kita untuk mengakhiri semua ini. Berhentilah berkutat dari buku-buku tebalmu. Lepaskan kaca matamu dan mari kita sejenak merenung. Kembali mengingat masa dimana goresan tawa selalu mewarnai hari-hari kita. Saat kita masih sama-sama mengecap manisnya sebuah bangku perkuliahan. Aku rindu saat-saat itu.
Jika dikalkulasikan, sudah berapa banyak waktu yang kita buang sia-sia untuk menyembunyikan semua hal yang sangat remeh ini, tapi begitu sesak saat tua begini? Dimanakah letak salah kita waktu itu? Kurasa hanya gengsi yang membuat semuanya menjadi beban berkepanjangan. Beban yang berkarat hingga sekarang. Masih malukah kita mengungkapnya?
Kukira kita sama: beruban putih dengan membawa sekantong beban yang mulai berkarat. Jadi mari, kita buka beban ini bersama, sebelum diri makin merenta. Memang tak pantas jika getar ini masih menghampiri. Sedikit tak wajar memang. Hanya saja sekali lagi kutegaskan, kita butuh satu kepastian: menyatukan yang seharusnya mungkin di waktu lampau. Meski agak terlambat. Mari kawan, mari kita satukan dan jangan pernah pisahkan. Karena hakikatnya kurasa kita sama. Dan kita kan bersama-sama dengan persamaan ini. Mari, mari kita eratkan.

09.01 pm
Saat sunyi menghampiri.

Goresan Penaku *16


Mencatat mimpi-mimpi dalam sebuah kertas seperti menuliskan sesuatu yang tak pernah mungkin terjadi. Selalu dicemooh, dihina. bukan diri kita sendiri saja yang dicerca, Tapi juga orang tua juga merasakannya. dan akulah salah satu manusia yang hidup dalam hinaan dan cercaan. Wahai kawan, simaklah ceritaku….
Aku bukanlah orang-orang hebat yang mampu mengubah dunia dengan seabrek karyaku. Aku hanya manusia biasa yang terlahir dalam keadaan tak membawa bakat apapun dari kedua orang tuaku. Aku hanya anak pedagang kaki lima yang setiap hari mangkal dipinggir jalan. Terpapar sinar matahari yang panasnya minta ampun. Tersapu debu jalanan yang setiap saat ikut menempel di badan. Rasanya mereka tak cukup baik untuk dibanggakan. Namun tidak bagiku. Bagiku merekalah malaikat yang diberikan Tuhan kepadaku. Bukan untuk mengajariku bagaimana cara membuat power point yang indah, atau mengajariku bagaimana cara mendownload materi dari internet. Tidak. Tidak kawan. Sama sekali mereka tak pernah mengajariku yang demikian.
Aku diajari bagaimana cara bersabar menghadapi rintangan hidup, belajar bagaimana cara bersyukur meski ujian terus menumpuk. Belajar bagaimana menjadi manusia yag berguna, bukan dengan harta, tapi dengan ketulusan jiwa. Wahai kawan, kan kulanjutkan ceritaku.
Ibuku, bukan seperti ibumu yang bekerja dikantor berAC selalu menggunakan hand&body lotion yang sangat wangi itu di tangan dan kakinya. Bukan pula seperti ibumu yang setiap minggu selalu menghabiskan uang jutaan rupiah untuk memperindah penampilan di sebuah salon kecantikan. Bukan, ibuku tak seperti itu teman. Ibuku hanyalah seorang pedagang bubur keliling yang selalu berangkat pagi, pulang siang lalu kembali lagi dan pulang setiap setengah 7 malam. Dan itu ia lakukan terus menerus. Pernah waktu ia pulang dari merantau kulihati kulit tangannya keras (ngapal.red). Begitu semangatnya beliau hingga tangannya hampir melepuh. Untuk siapa kalau bukan untukku?
Ia bekerja banting tulang, tak peduli panas ataupun hujan. Ia berkeliling dari satu desa ke desa lain. Menjajakan buburnya. Namun dibalik itu semua ada kebanggaan yang mampu menyelinap ke dalam jiwaku. Ibu selalu berpetuah kepadaku, jangan lupa baca al quran, selalu berdoa sama Allah, jangan main terus, belajarlah berhemat.
Setiap kali aku ada masalah, yang besar tentunya, aku selalu mengadu pada ibu. Ibu yang selalu dalam kesibukannya selalu menyempatkan untuk menelponku. Aku rasa diri ini sering membuatnya repot. Namun kawan, andai kalian tahu. Tak pernah sedikitpun ibuku mengeluh atas sifat kekanak-kanakan yang sering kuperlihatkan. Ia justru akan membelai rambutku, menasihatiku dengan caranya sendiri. Dia adalah malaikat yang dikirim Allah untuk mendampingi diriku menghadapi ganasnya dunia ini.
Kemudian ada ayahku, seorang yang keras dan tegas. Aku sendiri bahkan tak bisa membedakan mana kemarahan yang berarti sayang dan mana kemarahan yang muncul karena beliau benar-benar marah. Satu hal yang unik dari ayahku ini, dia selalu menunjukkan ekspresinya dengan kemarahan. Namun ia adalah ayah paling super yang pernah aku temui. Seorang ayah yang akan terus memberikan dukungan kepada anak-anaknya agar selalu semangat untuk belajar.Lelaki yang selalu tegas ketika menasehati, hingga terkadang aku salah mengartikan (Nasehat itu kukira sebuah larangan yang kejam, dan akhirnya aku akan menangis di kamar selama beberapa jam untuk kemudian menyadari bahwa apa yang dikatakan beliau memang benar).
Ayahku mungkin tak seperti ayahmu kawan, berjas hitam dengan tas koper ditangan kanannya sambil sesekali mengamati jam tangan yang menempel pada pergelangan tangan kirinya. Keluar dari mobil tergesa-gesa, membuka pintu ruangan di salah satu kantor tempatnya bekerja, berkutat pada computer dan beberapa berkas2 penting yang perlu ditandatangani.
Ayahku tak seperti penggambaranku di atas kawan. Jauh dari keglamoran itulah ciri ayahku. Beliau juga yang sering membuatku urung untuk memberi barang2 yang mungkin nomer kesekian di dalam list kebutuhan hidupku. Motivasi hidupnya yang keren adalah salah satu motivasi yang selama ini aku jadikan pegangan, yang aku jadikan bahan pertimbangan tiapa aku bertindak. Petuahnya layaknya pengontrol bagi diriku. Prinsip hidupnya yaitu “BapakE wong bodho ora masalah, penting anakE iso mulyo, iso ngunggahkE derajatE wong tuwo”. Prinsip inilah yang akhirnya menjadi cambuk bagi diriku untuk menjadi baik dari hari ke hari.
Dan akhirnya aku berpesan pada kalian, cintailah orang tuamu dan jagalah hubungan baik kalian dengan mereka. Bisa jadi suatu saat kalian akan menyesal karena tak pernah mendengarkan semua nasihat yang pernah beliau berikan pada kita. ^^

Special thanks to my parents…you’re best from the best…
::ini ceritaku, mana ceritamu???
Kamar G, fairuz
9.22 pm,  14/9/2011

Goresan Penaku *15


Kembali engkau menjinakkan hatiku. Setelah beberapa waktu ini aku mencoba menghindar darimu, ternyata kau kembali mengisi hatiku. Emmm, tepatnya mengusik hatiku. Sudah kugeser posisimu dengan hal-hal lain yang lebih indah dan bermanfaat daripada sekedar menawarkan satu ruang untuk kau tempati. Jujur, aku malas jika harus berurusan dengan batang hidungmu. Membuat diriku merasa risih denganmu.
Kau, sekali lagi engkau mendirikan bangunan di hatiku. Belum sesempurna yang dulu karena kau harus memulainya dari awal. Aku tak sudi berdekat-dekat lagi denganmu. Merusak otakku tau??