Mencatat mimpi-mimpi dalam sebuah kertas seperti menuliskan sesuatu yang tak pernah mungkin terjadi. Selalu dicemooh, dihina. bukan diri kita sendiri saja yang dicerca, Tapi juga orang tua juga merasakannya. dan akulah salah satu manusia yang hidup dalam hinaan dan cercaan. Wahai kawan, simaklah ceritaku….
Aku bukanlah orang-orang hebat yang mampu mengubah dunia dengan seabrek karyaku. Aku hanya manusia biasa yang terlahir dalam keadaan tak membawa bakat apapun dari kedua orang tuaku. Aku hanya anak pedagang kaki lima yang setiap hari mangkal dipinggir jalan. Terpapar sinar matahari yang panasnya minta ampun. Tersapu debu jalanan yang setiap saat ikut menempel di badan. Rasanya mereka tak cukup baik untuk dibanggakan. Namun tidak bagiku. Bagiku merekalah malaikat yang diberikan Tuhan kepadaku. Bukan untuk mengajariku bagaimana cara membuat power point yang indah, atau mengajariku bagaimana cara mendownload materi dari internet. Tidak. Tidak kawan. Sama sekali mereka tak pernah mengajariku yang demikian.
Aku diajari bagaimana cara bersabar menghadapi rintangan hidup, belajar bagaimana cara bersyukur meski ujian terus menumpuk. Belajar bagaimana menjadi manusia yag berguna, bukan dengan harta, tapi dengan ketulusan jiwa. Wahai kawan, kan kulanjutkan ceritaku.
Ibuku, bukan seperti ibumu yang bekerja dikantor berAC selalu menggunakan hand&body lotion yang sangat wangi itu di tangan dan kakinya. Bukan pula seperti ibumu yang setiap minggu selalu menghabiskan uang jutaan rupiah untuk memperindah penampilan di sebuah salon kecantikan. Bukan, ibuku tak seperti itu teman. Ibuku hanyalah seorang pedagang bubur keliling yang selalu berangkat pagi, pulang siang lalu kembali lagi dan pulang setiap setengah 7 malam. Dan itu ia lakukan terus menerus. Pernah waktu ia pulang dari merantau kulihati kulit tangannya keras (ngapal.red). Begitu semangatnya beliau hingga tangannya hampir melepuh. Untuk siapa kalau bukan untukku?
Ia bekerja banting tulang, tak peduli panas ataupun hujan. Ia berkeliling dari satu desa ke desa lain. Menjajakan buburnya. Namun dibalik itu semua ada kebanggaan yang mampu menyelinap ke dalam jiwaku. Ibu selalu berpetuah kepadaku, jangan lupa baca al quran, selalu berdoa sama Allah, jangan main terus, belajarlah berhemat.
Setiap kali aku ada masalah, yang besar tentunya, aku selalu mengadu pada ibu. Ibu yang selalu dalam kesibukannya selalu menyempatkan untuk menelponku. Aku rasa diri ini sering membuatnya repot. Namun kawan, andai kalian tahu. Tak pernah sedikitpun ibuku mengeluh atas sifat kekanak-kanakan yang sering kuperlihatkan. Ia justru akan membelai rambutku, menasihatiku dengan caranya sendiri. Dia adalah malaikat yang dikirim Allah untuk mendampingi diriku menghadapi ganasnya dunia ini.
Kemudian ada ayahku, seorang yang keras dan tegas. Aku sendiri bahkan tak bisa membedakan mana kemarahan yang berarti sayang dan mana kemarahan yang muncul karena beliau benar-benar marah. Satu hal yang unik dari ayahku ini, dia selalu menunjukkan ekspresinya dengan kemarahan. Namun ia adalah ayah paling super yang pernah aku temui. Seorang ayah yang akan terus memberikan dukungan kepada anak-anaknya agar selalu semangat untuk belajar.Lelaki yang selalu tegas ketika menasehati, hingga terkadang aku salah mengartikan (Nasehat itu kukira sebuah larangan yang kejam, dan akhirnya aku akan menangis di kamar selama beberapa jam untuk kemudian menyadari bahwa apa yang dikatakan beliau memang benar).
Ayahku mungkin tak seperti ayahmu kawan, berjas hitam dengan tas koper ditangan kanannya sambil sesekali mengamati jam tangan yang menempel pada pergelangan tangan kirinya. Keluar dari mobil tergesa-gesa, membuka pintu ruangan di salah satu kantor tempatnya bekerja, berkutat pada computer dan beberapa berkas2 penting yang perlu ditandatangani.
Ayahku tak seperti penggambaranku di atas kawan. Jauh dari keglamoran itulah ciri ayahku. Beliau juga yang sering membuatku urung untuk memberi barang2 yang mungkin nomer kesekian di dalam list kebutuhan hidupku. Motivasi hidupnya yang keren adalah salah satu motivasi yang selama ini aku jadikan pegangan, yang aku jadikan bahan pertimbangan tiapa aku bertindak. Petuahnya layaknya pengontrol bagi diriku. Prinsip hidupnya yaitu “BapakE wong bodho ora masalah, penting anakE iso mulyo, iso ngunggahkE derajatE wong tuwo”. Prinsip inilah yang akhirnya menjadi cambuk bagi diriku untuk menjadi baik dari hari ke hari.
Dan akhirnya aku berpesan pada kalian, cintailah orang tuamu dan jagalah hubungan baik kalian dengan mereka. Bisa jadi suatu saat kalian akan menyesal karena tak pernah mendengarkan semua nasihat yang pernah beliau berikan pada kita. ^^
Special thanks to my parents…you’re best from the best…
::ini ceritaku, mana ceritamu???
Kamar G, fairuz
9.22 pm, 14/9/2011