Cinta Dalam Diam
Aku masih di sini. Masih berkutat dengan buku catatan harian ini. Catatan yang selalu ada namamu tersemat di dalamnya. Aku di sini seperti pungguk merindukan bulan. Jujur, aku sangat takut untuk mencintaimu. Aku merasa tak kan pernah pantas memiliki ragamu.
Aku di sini, ya hanya di sini. Asalkan mampu memandangi wajahmu dari jauh,dari pojok ruang pengap kurang ventilasi ini. Memandangi wajahmnu yang sedari tadi menatap lekat buku tebal sambil sekali waktu membenarkan letak kacamatamu yang melorot. Ya, aku hanya mampu menatapmu dari sini. Terkadang tatapanku tertangkap basah oleh matamu. Mata kita bertemu dalam beberapa detik. Aku biarkan semuanya. Karena aku begitu menikmati saat –saat itu. Meski beberapa detik berikutnya aku menjadi salah tingkah karenanya.
Andai engkau tak pernah membantuku tempo hari. Andai nasihat-nasihat mutiaramu itu tak pernah sekalipun meluncur dari mulutmu mungkin aku takkan segila ini. Semua yang normal tampak abnormal dalam pandanganku. Semuanya semu. Kawan, penglihatanku semakin tak jelas sejak kau secara diam-diam menutupinya dengan keindahan sifat dan sikapmu.
Jujur, aku tergila-gila bukan karena tampang kerenmu yang -layaknya seperti lelaki lain- digunaknnya untuk memikat hati gadis-gadis kegatelan. Bukan, sama sekali bukan karena parasmu. Tapi karena keindahan sifat dan sikapmu yang mampu memompa darahku yang menuju jantung semakin cepat. Wahai engkau, sungguh aku juga tak pernah mengerti semua ini.
Aku sadar, jika semua rahasia ini kau ketahui tentulah aku akan menanggung malu tak terbendung. Aku memang bukan tipemu bahkan jauh dari tipe idealmu. Tapi apakah salah jika aku menaruh hati padamu? Apakah salah pula jika aku menginginkan dirimu untuk menjadi pendampingku kelak.
Aku tak pernah menceritakan rasa ini pada siapapun kecuali pada buku harian usang ini. Buku harian yang kubeli sejak kau menyarankan agar aku menyukai warna biru. Dan lihatlah, karena kau pula segala yang kumiliki kini berubah dari yang semula hijau kini berevolusi menjadi biru. Kau bilang biru lebih mendekatkan kita pada langit. Langit yang mana? Aku pun juga tak tahu. Mungkinkah langit hatimu? Kuharapkan seperti itu.
Rasa ini memang kurasa tak pantas untuk mendekam dalam diriku. Suatu kesalahan besar mungkin. Dan bahkan kau akan memperolok-olokku. Kau akan berkata pada semua orang di sekitarmu bahwa aku adalah orang jelek yang mengemis cinta padamu. Dan entah cercaan apa yang akan kau tumpahkan saat perasaan ini berhasil kau ketahui. Kawan bukan maksudku untuk mempermalukanmu karena cintaku. Tapi jujur, inilah aku. Apa adanya diriku.
Maaf jika aku sering membuatmu kesal. Maaf jika aku sering membuatmu jengkel. Maaf atas kesalahan yang mungkin tak kuketahui dan hanya engkau yang tahu. Maaf untuk semuanya. Lewat buku harian ini aku hanya ingin engkau tahu sebenarnya perasaanku. Bukan agar engkau kemudian jatuh hati kepadaku. Bukan, sama sekali bukan seperti itu maksudku. Aku hanya ingin, di penghujung usiaku ini engkau tahu. Betapa selama ini aku begitu mencintaimu.
Satu pesanku untukmu: buka lebar-lebar mata hatimu. Janganlah kau terpaku pada satu pintu. Tapi cobalah lihat berapa banyak pintu lain yang terbuka lebar yang akan segera menyambutmu dengan ramah jika saja kau mau mengunjunginya, termasuk dalam hal ini pintu hatiku. Wahai kawan ingatlah aku.
Satu lagi. Yang terpenting dan mungkin telah kau lupakan. Akulah yang sebenarnya yang mengirimimu kaos berwarna merah itu. Kaos bernomor punggung milik Bambang Pamungkas itu. Jika pada akhirnya Nayla lah yang mengaku-aku bahwa dialah yang memberikannya, tak apa. Karena yang terpenting adalah mengembalikan senyummu yang kian memudar akhir-akhir waktu lalu. Biarlah kebahagiaanmu itu sebgai penawar rasa rinduku akan hadirnya dirimu dalam hatiku. Biarkan. Biarkan aku mencintaimu dalam kediaman ini. Cinta dalam Diam…[Nanda Lia]
18 Juni 2011, 08.52 pm
Saat mimpi itu kuharapkan untuk menjadi kenyataan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar