Membosankan sekali! Selalu dia yang terus menerus berpendaran dalam otakku. Tak ada yang lain. Yang aku tak habis fikir. Kenapa tiba-tiba pikiranku tercerabut lantaran dia terlempar masuk ke dalam kehidupanku.
Sungguh menjengkelkan sekali tatkala dia mengendap-endap memasuki ruang hatiku, yang ternyata ia sendiri tak menyadarinya.
Betapa bodohnya aku ketika hati melonjak bahagia karena dia memanggilku dengan nama yang lain. Nama yang terdengar mengejek jika itu diucapkan oleh orang lain. Namun tiba-tiba panggilan itu serasa menjadi panggilan sayangnya untukku. Hmm, biarlah aku merasa kePeDean, namun memang seperti itulah adaku. Makhluk bodoh yang tiba-tiba menjadi idiot hanya karena sesosok lelaki tak sempurna itu!
Aku yang terseok-seok membenarkan paradigma tentang cinta ini lantas kemudian menjadi semakin terlihat layaknya kacung saat ia meminta bantuan untuk mengerjakan tugas. Aku sebagai manusia yang menjunjung tinggi tingkat egoisme diri tak layak jika harus mengerjakan tugas orang lain dengan tanganku sendiri. Apalagi jika dia termasuk dalam list manusia yang menjadi saingan terberatku. Jangan harap aku mau kompromi dengan tugas-tugas, sekecil dan seremeh apapun jenis tugas itu. Tapi sekarang??? Aku muak dengan sikapku sendiri. Aku dengan segala kelemahanku sebagai seorang wanita yang sedang dilanda virus merah jambu dengan senang hati mau membantunya mengerjakan tugas. Bukan hanya sekedar membantu lewat lisan, tapi juga membantu lewat tulisan!!ya, aku yang mengerjakan tugasnya. Ya Tuhan, betapa terlalu tersihir hati ini olehnya.
Entah kenapa aku kelu untuk menolak segala permintaanya. Antara kasihan, simpati, dan debaran rasa ynag tak pernah berubah dari hari ke hari. Aku dengan senang hati menerima dan melaksanakan suruhannya. Layaknya kacung yang siap menerima tugas dari “ndoro”nya.
Jauh di lubuk hati ini kuingin untuk mencabut paksa ia dari hatiku. Meski sisa cabutan itu mengiris perih dan membuat noda dalam hati, namun setidaknya ada rongga kosong bekasnya yang siap ditempati oleh orang-orang yang lebih pantas menempatinya. Ayah mungkin, atau ibu, atau adik, atau siapa saja yang memang pantas menempatinya.
Namun sekali lagi, aku terlalu lemah dalam hal ini. Selalu terlihat biasa saja namun sesak hati dibuatnya. Ya Rabb, betapa sulitnya menanggung rasa yang hanya sepihak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar