Ada rasa yang hilang tatkala dilema mulai meruntuhkan benteng pertahananku. Aku tak bisa berucap. Mentari masih enggan menggemakan suaranya, hanya pancaran hangat yang lantas kemudian menyentak. Menderas keras pada beban di kepalaku. Tak tau pada siapa aku dapat mengeluh, tapi kuharap ada dia yang tiba-tiba menghampiri, meneduhkan jiwa meski dirinya sendiri hampa.
Aku ingin Tuhan mempertemukan kita pada hari yang indah, dimana hubungan kita ini tak lantas menjadi sesuatu yang haram meski semua orang menganggapnya biasa saja. Kita akan halal, cepat atau lambat.
Dan dalam penantian kehalalan kita itu tak lantas aku akan mengungkap segala rasa yang tercecer dalam jiwaku ini. Akan kuseka. Aku akan berdiam hingga pintu halal itu terbuka lebar. Aku akan berdiam hingga waktu untuk angkat bicara itu tiba. Seperti Fatimah yang ternyata begitu mengagumi sosok Ali sejak jauh-jauh hari sebelum kehalalan itu melingkupi mereka. Namun Fatimah tetpa dalam kediamannya. Menunggu dengan sabar sambil sesekali berdoa padaNya.
MAka ijinkanlah aku untuk tetap pada zona aman, zona kediaman yang akan terus menyelimutiku hingga waktu kebahagiaan kita itu tiba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar